Friday, August 04, 2006

Penjarah Hutan Masih Berkeliaran

Jumat, 04 Agustus 2006 01:40

Banjarmasin, BPost - Tak pernah ada kata jera. Itulah para pelaku pembalakan hutan. Polisi dari Polres Kotabaru dan Polres Tanah Bumbu, di back-up jajaran Reskrim Polda Kalsel, mengamankan ratusan kayu log bernilai puluhan juta rupiah.

Pada Rabu (2/8) siang, jajaran Polres Kotabaru yang melakukan operasi rutin mengamankan 35 batang kayu log dan 35 potong kayu balok siap jual.

Kapolres Kotabaru Ajun Komisaris Besar Sahimin Zainuddin yang dikonfirmasi, Kamis (3/8), mengatakan, anak buahnya mengamankan tiga truk penuh kayu saat menggelar operasi rutin di jalanan.

"Ketiga truk tersebut kita amankan di tempat terpisah. Ada yang membawa kayu olahan tanpa dokumen, dan ada juga yang membawa kayu log untuk diserahkan ke bansaw," paparnya.

Polisi pertama kali mengamankan truk DA 9531 G saat melintas di Jalan Semaras Pulau Laut. Sopir truk, Norjani langsung digelandang ke Mapolres Kotabaru.

Kemudian truk tanpa plat nomor yang mengangkut 20 kayu log tanpa dokumen, diamankan saat melintas diJalan HTI Pulau Laut Barat. Sopir truk, Salomo (20) juga dibawa ke kantor polisi untuk menjalani pemeriksaan.

Satu lagi truk berplat W 7696 KU ditangkap di Sungup Pemasiran Pulau Laut Utara. Di dalam truk itu terdapat 15 potong kayu log. Pemiliknya, Iwan melarikan diri.

Sementara itu, jajaran Polres Tanah Bumbu dan Polda Kalsel, bersama-sama Dinas Kehutanan menggelar operasi penertiban illegal logging di Kecamatan Mentewe, Tanah Bumbu. Hasilnya, mereka mengamankan 168 potong kayu log.

Informasi diperoleh BPost, bergeraknya Reskrim Polda Kalsel yang didukung jajaran Polres Tanah Bumbu ini memang untuk pemberantasan pembalakan.

"Tim gabungan tersebut menemukan kayu log jenis meranti campuran sebanyak 168 potong. Jumlah kubikasi belum bisa ditentukan karena masih dalam perhitungan petugas," papar Kapolres Tanah Bumbu AKBP Hersom Bagus Pribadi.dwi

Wednesday, August 02, 2006

Hutan Gundul Salah Satu Penyebab

Rabu, 02 Agustus 2006 01:16:35

Martapura, BPost - Bupati Banjar HG Khairul Saleh membantah telah mengeluarkan pernyataan kontroversial terkait musibah banjir. "Yang saya maksud hutan gundul hanya salah satu penyebab dari musibah banjir ini," ujarnya, Senin (31/7).

Ketika berjumpa dengan masyarakat Karang Intan beberapa waktu lalu, pihaknya menyatakan bahwa musibah banjir disebabkan oleh beberapa faktor, seperti tingginya curah hujan di bagian hulu Sungai Riam Kiwa dan Sungai Riam Kanan.

Daya serap tanah terhadap air semakin berkurang, kondisi hutan semakin gundul. Selain itu, hakikatnya, musibah ini sudah kehendak Allah, tukasnya.

Dalam pernyataannya itu, lanjut Khairul, dirinya sama sekali tidak membela PT Sumpol Timber, tidak memiliki kepentingan pribadi terhadap perusahaan HPH tersebut.

"Hanya, hutan gundul sebagai salah satu penyebab banjir itu memang harus kita akui bersama memang betul. Namun, apakah PT Sumpol sebagai penyebab gundulnya hutan, tentu saja masih memerlukan penelitian yang mendalam dan melalui proses konstitusional yang berlaku," ungkapnya.

Khairul menegaskan, pihaknya akan mendukung apa pun yang dihasilkan DPRD Banjar sebagai perwujudan perwakilan rakyat Banjar.

"Kalau dewan merekomendasikan izin PT Sumpol dicabut oleh Dirjen Kehutanan, saya akan mendukung apa yang menjadi keinginan masyarakat. Namun, kalau saya tergesa-gesa mengambil keputusan, bisa-bisa langkah saya dicap inkonstitusional dan saya bisa dituntut," katanya. adi

Tuesday, August 01, 2006

Pernyataan Bupati Kontroversial

Minggu, 30 Juli 2006 23:53:46

Martapura, BPost - Pernyataan Bupati Banjar, HG Khairul Saleh di salah satu media bahwa penyebab banjir kemarin bukan akibat aktivitas perusahaan kayu besar dinilai kontroversial. Lekawasda Kalsel bahkan berniat menggelar rapat intern untuk menyikapi masalah tersebut.

"Pernyataan Bupati kontroversial. Kami kurang sependapat kalau beliau bilang bahwa musibah banjir sudah kehendak Allah dan bukan akibat penebangan hutan di Pegunungan Meratus oleh perusahaan besar," ujar Adolf, Sekretaris Lekawasda, Kamis (27/7).

Menurutnya, segala musibah termasuk banjir memang sudah kehendak Allah, namun hal itu tentu ada sebabnya, yakni karena ulah manusia sendiri yang tidak mengindahkan kelestarian alam.

"Nah, musibah banjir kali ini sebenarnya terjadi di musim kemarau basah, dalam arti bukan di musim penghujan. Hal ini terang saja, karena vegetasi dan serapan tanah berkurang karena pohon-pohon sudah banyak yang musnah, terutama di kawasan hulu Sungai Riam Kanan," tegasnya.

Dikatakan, kurang tepat kalau Khairul membandingkan banjir Juli 2006 dengan banjir 1965 meskipun saat itu jumlah pohon masih sangat banyak. Tahun 1965 banjir bisa terjadi karena curah hujan sangat tinggi, sementara saat ini meski memasuki musim kemarau bisa terjadi banjir.adi